Jadi freelancer itu kayak punya dua sisi mata uang. Satu sisi, kamu bebas ngatur waktu sendiri. Sisi lain, kamu nggak punya gaji tetap yang otomatis masuk tiap tanggal 25. Nah, buat kamu yang baru mulai kerja lepas dan tetap pengen jalan-jalan, artikel ini bakal nuntun kamu langkah demi langkah. Nggak perlu nunggu kaya dulu, kok.
Gue sendiri mulai serius freelancing sekitar tiga tahun lalu. Awalnya mikir, "Ah, jalan-jalan kayaknya harus ditunda deh sampai penghasilan stabil." Ternyata salah besar. Justru dengan strategi yang bener, perjalanan murah itu bisa jadi bagian dari ritme kerja kamu.
Langkah 1: Tentukan Dulu "Kantong" Perjalananmu
Sebelum ngomongin destinasi, kamu perlu satu hal yang sering dilupain freelancer pemula: rekening atau pos khusus buat jalan-jalan. Kenapa penting? Karena penghasilan freelancer itu naik-turun. Kalau semua uang masuk kamu campur jadi satu, godaan buat "pakai aja dulu" bakal gede banget.
Baca juga: Sebulan Nabung Receh, Malah Bisa Trip ke Dieng
Caranya simpel. Tiap kali dapat bayaran dari klien, sisihkan langsung 5–10 persen ke pos ini. Nggak perlu nunggu sisa. Sisihkan di depan, bukan di belakang. Anggap aja ini "pajak kebahagiaan" buat diri sendiri. Dalam dua sampai tiga bulan, kamu bakal kaget lihat jumlahnya udah lumayan buat tiket dan penginapan.
Uang jalan-jalan paling aman itu yang disisihkan sebelum kamu sempat mikir "ini bisa buat beli apa ya".
Langkah 2: Pilih Destinasi yang Ramah Kantong, Bukan yang Lagi Viral
Ini bagian yang paling sering bikin freelancer gagal berangkat. Kita lihat feed, lihat teman posting di Labuan Bajo atau Raja Ampat, terus langsung ngecek tiket. Padahal buat pemula, destinasi populer itu sering jadi jebakan biaya.
Mulailah dari tempat yang deket dan murah dulu. Beberapa pilihan yang gue rasa masuk akal buat kantong freelancer pemula:
- Yogyakarta — transportasi dalam kota murah, banyak penginapan di bawah 150 ribu, dan makanan kaki lima yang nggak bikin dompet nangis.
- Malang dan Batu — udara sejuk, akses dari Surabaya gampang, dan banyak spot alam yang tiket masuknya masih puluhan ribu.
- Bukittinggi — pemandangan Ngarai Sianok dan Jam Gadang bisa dinikmati tanpa bayar mahal, plus kuliner Padang yang porsinya nggak main-main.
- Karimunjawa — buat yang pengen rasa "pulau" tapi budget masih masuk, ini pilihan yang lumayan ramah.
Prinsipnya gini: satu perjalanan pertama yang berhasil itu lebih berharga daripada sepuluh rencana ke tempat mahal yang nggak pernah kesampaian.
Langkah 3: Susun Rencana Kerja di Sekitar Tanggal Berangkat
Nah, ini yang beda antara freelancer dan karyawan. Kamu nggak perlu cuti resmi, tapi kamu perlu ngatur deadline klien biar nggak tabrakan sama tanggal jalan. Gue biasanya pakai cara sederhana: tentukan tanggal berangkat dulu, baru mundurin semua deadline satu minggu sebelumnya.
Kenapa dimundurin? Biar kamu punya ruang napas. Kalau ada revisi mendadak atau klien minta tambahan, kamu masih sempat kerjain sebelum berangkat. Jangan pernah berangkat dengan pekerjaan yang deadline-nya jatuh pas kamu lagi di jalan. Sinyal di beberapa tempat masih suka ngambek, dan stres karena kerjaan itu beneran bisa ngerusak liburan.
Kasih tahu klien jauh-jauh hari juga. Bilang aja kamu bakal agak lambat respons di tanggal tertentu. Klien yang wajar bakal ngerti, kok. Yang nggak ngerti... ya mungkin bukan klien yang cocok buat jangka panjang.
Tips kecil soal "kerja sambil jalan"
Kalau kamu tipe yang tetap pengen produktif di perjalanan, siapkan satu hari khusus buat kerja dan sisanya buat jalan. Jangan campur aduk. Gue pernah coba jawab email sambil naik ojek ke pantai, dan hasilnya: email setengah jadi, pantai nggak dinikmatin. Nggak worth it.
Langkah 4: Booking dengan Strategi, Bukan Panik
Banyak freelancer pemula beli tiket di menit terakhir karena nunggu uang masuk. Ini bikin harga jadi lebih mahal dan pilihan terbatas. Solusinya: pesan lebih awal untuk hal-hal yang harganya naik seiring waktu, yaitu tiket transportasi dan penginapan.
Beberapa kebiasaan yang gue pegang sampai sekarang:
- Pesan tiket kereta atau pesawat minimal dua sampai tiga minggu sebelumnya.
- Pilih penginapan yang bisa dibatalkan gratis, supaya kalau ada klien mendesak kamu masih fleksibel.
- Bawa uang tunai secukupnya, karena nggak semua tempat di Indonesia nyaman buat pembayaran digital.
- Cek ulang tanggal, jam, dan nama sesuai identitas. Sepele, tapi sering bikin masalah.
Dan satu lagi: jangan tergoda upgrade yang nggak perlu. Kursi ekonomi dengan bantal leher sendiri itu jauh lebih nyaman daripada kursi mahal yang bikin kamu nggak bisa makan seminggu.
Langkah 5: Berangkat, Nikmati, dan Catat Pelajarannya
Ini langkah yang paling sering dilewatin: benar-benar berangkat. Banyak orang sibuk riset dan bikin rencana, tapi nggak pernah jalan. Buat kamu yang baru mulai, targetkan satu perjalanan kecil dalam tiga bulan ke depan. Nggak usah jauh, nggak usah lama. Dua hari satu malam juga cukup.
Setelah pulang, catat pengeluaranmu. Dari situ kamu bakal tahu mana yang boros dan mana yang worth it. Pengalaman pertama biasanya jadi patokan buat perjalanan berikutnya. Lama-lama kamu punya "rumus" sendiri yang bikin biaya makin efisien.
Gue percaya, jadi freelancer itu bukan alasan buat nunda hidup. Justru dengan waktu yang lebih fleksibel, kamu punya kesempatan jalan-jalan di hari kerja saat tempat wisata masih sepi. Itu kemewahan yang nggak semua orang punya. Jadi, mulai dari langkah satu hari ini, ya. Sisihkan sedikit, pilih tujuan yang ramah kantong, dan berangkat.